19 Mar 2018

Love For Sale (2018) : Harapan Ada Pada Gempi Marten



Warning, ini bukan merupakan sebuah review film!
Di media sosial terutama twitter, saya adalah follower dari Adriano Qalbi dengan akun twitter @adrianoqalbi dan Angga Dwimas Sasongko (akun  twitter @anggasasosongko). Dua orang yang terlibat di dalam film Love For Sale. Adriano sebagai pemeran salah satu tokoh, sedangkan Angga adalah producer film tersebut melalui production house (PH) miliknya, Visinema Pictures.
Kurang lebih baru setahun saya menjadi salah satu follower mereka berdua. Adriano saya kenal karena saya merupakan salah satu pendengar rekaman suaranya yang disebut podcast awal minggu (@podcastawalminggu) sedangkan Angga pertama kali saya kenal karena ia merupakan sutradara dari film Cahaya dari Timur : Beta Maluku (2014).
Menariknya, meskipun saya menjadi follower dua orang yang terlibat langsung di dalam film Love For Sale ini dan hampir setiap hari saya berlalu lalang di twitter, tapi saya pertama kali mengetahui tentang film ini bukan lah dari twit salah satunya atau dari promo mereka berdua di twitter. Saya mengetahui film ini dari iklan di bioskop yang ditayangkan sebelum sebuah film dimulai sejak sekitar Januari 2018 lalu. Iklan yang ditayangkan cukup 'nyeleneh' menurut saya karena menampilkan seorang pria yang belakangan saya ketahui sebagai pemeran utama dalam film ini sedang berjalan di dalam sebuah rumah Cuma dengan menggunakan celana dalam dan singlet saja. Lalu pria tersebut juga menggaruk-garuk di bagian selangkangannya. Cukup nyeleneh untuk ukuran film Indonesia menurut saya.
Pada akhir iklan, seperti biasa ditampilkan PH yang menggarap film tersebut. Maka terlihatlah Visinema Picture. Sejak itu, saya yakin dan percaya selain iklan yang sedikit nyeleneh, film ini juga akan menjadi sebuah film yang bagus. Karena menurut saya apa yang diproduksi Visinema sebelumnya, belum pernah membuat saya kecewa. Maka sejak saat itu saya berjanji, saya harus menonton film tersebut. Saya berusaha mengingat jadwal tayang film ini pada bulan Maret.
Balik sedikit ke belakang tentang apa yang sebut film atau karya yang digarap oleh Visinema belum pernah membuat saya kecewa. Visinema Pictures dan Angga Dwimas Sasongko saya kenal pertama kali melalui film Cahaya dari Timur : Beta Maluku (2014), sebuah film yang sempat meraih film terbaik versi FFI tahun 2014. Selanjutnya film Filosofi Kopi (2015) yang mana menurut saya lebih laris setelah tidak lagi tayang di bioskop dan juga sukses sebagai brand sebuah kedai kopi. Ada film Filosofi Kopi 2 (2017) yang secara angka penonton bioskop cukup meningkat dari film pertamanya. Sebelum itu juga terselip film produksi Visinema lainnya Surat dari Praha (2016). Dari semua list film tersebut, menurut saya adalah karya yang istimewa dari Visinema yang tidak pernah mengecewakan. Bahkan sejak akhir tahun lalu saya membaca twit Angga, kabarnya Visinema dan Angga juga sedang menggarap film Wiro Sableng yang akan tayang tahun 2018 ini.

Film sukses?
 
Suksesnya sebuah film biasanya bisa diukur dari dua hal. Pertama sukses secara kualitas film. Kualitas di sini biasanya bisa dilihat dari beberapa aspek misalnya seperti rating, review, komentar penonton, kepuasan penonton atau penghargaan yang diterima oleh film tersebut dari festival-festival film yang ada. Kedua, suksesnya sebuah film biasanya diukur berdasarkan jumlah penonton yang menonton film tersebut di bioskop.
Kedua aspek kesuksesan sebuah film tersebut bisa jadi beriringan atau bisa jadi juga tidak sejalan. Film yang dibilang sukses secara kualitas, misalnya mendapatkan banyak respon yang positif, rating di IMDB tinggi, review yang bagus dan sebagainya bisa saja mendapatkan sedikit penonton di bioskop ketika masih tayang. Begitupun sebaliknya, film yang secara kualitas dianggap ‘biasa saja’ (jika tidak mau disebut jelek) bisa mendapatkan jumlah penonton yang banyak di bioskop. Kita samakan persepsi misalnya kurang dari satu juga penonton disebut sedikit, dan lebih dari satu juta penonton disebut banyak.
Film-film produksi dari Visinema Picture itu kebanyakan adalah golongan yang pertama. Dimana, secara kualitas dan review selalu bagus, medapatkan banyak penghargaan. Namun selalu biasa saja dari segi penjualan dan jumlah penonton di bioskop. Saya menyebutnya dengan kegagalan marketing. Banyak faktor tentunya, salah satunya mungkin dengan terbatasnya biaya untuk promosi. Selain itu bisa juga mungkin dengan terbatasnya biaya produksi sehingga tidak bisa melibatkan banyak actor atau aktris pendukung yang juga bisa membawa banyak masa penonton. Atau karena terlalu ‘idealis’ dalam menulis cerita mungkin. Kita tentu bisa saja banyak mengira-ngira dan menerka-nerka dengan berbagai analisa-analisa tertentu. Tapi yang pasti, film-film yang menurut saya belum pernah mengecewakan dari visinema, selalu terdengar biasa saja dari segi angka penjualan penonton di bioskop.
Ada sedikit harapan untuk saya film Love For Sale ini akan lebih sukses dari segi kualitas dan jumlah penonton di bioskop dibandingkan para pendahulunya dari PH yang sama. Karena setidaknya informasi tentang film ini tidak lagi saya dengar dari promosi gratisan di twitter, tapi sudah promosi melalui iklan di bioskop. Harapan ini pun bertambah ketika kamis lalu tanggal 15 Maret 2018 saya sudah menonton film Love For Sale, dan seperti biasanya memang memang tidak mengecewakan. Secara kualitas sudah memenuhi syarat menurut saya. Tinggal semoga lebih berhasil secara penjualan dan jumlah penonton bioskop. Karena mengingat biaya promosinya sudah cukup besar sepertinya.

Setelah sempat menonton film ini ketika hari pertama ditayangkan di bioskop, saya sedikit mulai ragu dengan harapan tersebut. Ketika itu saya menonton di BTC XXI, Bandung. Pada jam yang seharusnya prime time pukul 19.00 saja penonton tidak sampai 25% total isi bioskop itu yang saya lihat. Begitupun membaca beberapa re-twit oleh Angga di twitter, juga terbaca oleh saya juga belum bisa menjadi perbincangan yang trending topik. Sepertinya, jika ingin menjadi film dengan jutaan penonton, haruslah beberapa kali menjadi trending topik di media sosial.
            Secara cerita, film Love For Sale ini memang sangat dewasa. Dewasa dalam arti sebenarnya, jika tak mau disebut tua. Hal ini bisa menjadi kekuatan, sekaligus kelemahan. Kekuatan karena memang ceritanya terasa begitu dekat, nyambung dan nyata bagi orang-orang dengan umur seperti saya. Menjadi kelemahan karena kurang bisa dinikmati oleh anak yang lebih remaja. Bakan menurut saya film ini tidak cocok ditonton oleh mereka yang masih dibawah 22 bahkan 23 tahun mungkin. Jika kurang bisa (kalau tak mau disebut tidak bisa) ditonton oleh mereka pada usia remaja, tentu akan sulit untuk dapat mengejar jutaan penonton seperti kategori film sukses dari segi bisnis seperti yang kita sepakati di atas.
Film garapan sutradara Andi Bachtiar Yusuf ini bercerita tentang seorang pria single berusia 41 tahun yang diperankan oleh Gading Marten. Bercerita tentang kegelisahan seorang pria single yang ‘sudah lewat usia menikah’ yang sudah memasuki usia susah untuk mendapatkan pacar, lingkup pergaulan semakin menyempit dan benar-benar kesepian sampai hidupnya menjadi kaku. Kegelisahan-kegelisahan seperti ini tidak harus dijelaskan pada kepada pada pria dengan usia 25 tahun lebih dan masih single serta tidak memiliki pacar bahkan. Tidak hanya pada pria saja, beberapa teman wanita saya dengan usia yang sama juga mengakui bisa nyambung dengan kegelisahan cerita yang diangkat film Love For Sale ini. Namun akan sangat sulit dijelaskan kepada mereka yang masih berusia sebelum sekitar 22-23 atau bahkan kepada remaja.
Kegelisahan, kesepian dan cerita dalam film ini sungguh kuat, memang sudah menjadi ciri dari karya Visinema sepertinya. Bahkan Love For Sale mengingatkan saya pada film karya Visinema lainnya, Surat dari Praha (2016). Kegelisahan yang ditonjolkan dalam kedua film ini saya merasakan sama. Cuma berbeda dari konflik yang dihadapi. Dalam film Surat dari Praha konflik nya berkaitan dengan politik, di mana tokoh utamanya dicabut kewarganegaraan nya ketika berada di luar negeri. Namun dari sisi kesepian saya merasakan hal yang sama yang dihadirkan kedua tokoh dalam kedua film tersebut.
Sama seperti kebanyakan film yang diproduksi oleh Visinema Pictures lainnya, Love For Sale juga relative tidak mengandalkan banyak nama actor/aktris yang memerankan tokoh dalam film ini. Begitu juga dengan lokasi pengambilan gambar, sepertinya tidak banyak. Memang Love For Sale sudah kuat dari segi ceritanya. Hampir cuma nama Gading Marten sebagai pemeran utama yang boleh disebut nama besar (dengan asumsi setiap hari wara-wiri di tv nasional). Itupun katanya sudah turun pamor katanya, dikalahkan Gempi anak pertamanya.
Bahkan dalam beberapa kali wawancara di beberapa media, sambil bercanda Gading pun sudah sering menyebut bahwa ia sekarang lebih sering dipanggil anak Roy Marten atau ayahnya Gempi. Hal ini mungkin benar adanya. Jika diliat di media sosial Gading (instagram terutama) sorotan warganet Indonesia sepertinya lebih besar kepada Gempi dari pada Gading. Hal itu juga yang terlintas pertama dalam otak saya : mungkinkah popularitas Gempi bisa berpengaruh terhadap kesuksesan film Love For Sale nantinya?

*Nb : naskah ini diselesaikan dalam keadaan gaya seperti Richard, celana dalam dan singlet sedikit sobek.

30 Nov 2014

Meja


Oleh : Yolanda Krisna Putra


Dimana ada meja, disitu ada kursi. Biasanya. Walaupun tak selamanya begitu. Seperti kursi, meja disanggah oleh minimal satu tiang (kebanyakannya lebih). Bedanya meja difungsikan sebagai peletakan benda, kursi untuk tempat duduk.
Ada semacam aturan tidak tertulis menyatakan duduk di atas meja dianggap ‘kurang sopan’, terutama dalam forum-forum resmi. Tapi aturan ini tidak melarang sebaliknya. Tidak melarang peletakan benda di atas kursi karena fungsi kursi sebagai tempat duduk. Kursi dianggap lumrah menjalankan fungsi meja, sedangkan meja dianggap tak wajar menjalankan fungsi kursi.
Meja bisa menjadi media untuk terjadinya interaksi sosial. Ketika menjadi tempat pertemuan, maka berfungsilah ia secara sosial. Namun meja membutuhkan kursi (orang-orang yang duduk; lesehan) agar dapat menjalankan fungsi sosialnya. Sedangkan kursi tidak membutuhkan meja agar dapat menjalankan kursi sosialnya. Orang yang duduk di kursi tanpa meja pun bisa melakukan interaksi sosial. Bahkan kursi pun bisa menggantikan fungsi meja.
Mungkin kita sering melihat pertemuan menggunakan meja persegi panjang, maka pemimpinnya akan duduk di ujung agar adanya fokus kepada pemimpin tersebut. Meja bisa menyimbolkan strata dalam pertemuan. Duduk melingkar dalam suatu pertemuan bisa menandakan bahwa semua sama, tak ada pemimpin dan taka da yang dipimpin. Sepertinya sebab itu Indonesia pernah mengenal “konfrensi meja bundar” dalam perjuangannya.

***

Warkop (warung kopi) atau kedai kopi dianggap sebagai ruang interaksi yang mewakili Indonesia. Warkop atau kedai kopi di Indonesia mempunyai satu meja. Dibuat melingkar mengelilingi pedagang. Sehingga peluang untuk melakukan interaksi (obrolan) satu pembeli dengan pembeli lainnya semakin besar. Atau pembeli dengan penjual sekali pun. Tak ada rasa risih obrolanmu akan didengar oleh orang sebelah yang belum dikenal.
Bandingkan dengan café yang merupakan representative barat (berasal dari francis). Café menggunakan banyak meja dalam suatu ruangan. Satu kelompok, satu meja. Café mewakili barat yang dianggap lebih individualis. Interaksi antar satu meja dengan meja lainnya sangat kecil peluangnya. Mereka juga menempatkan penjual sebagai pelayan yang fungsinya melayani, dan pembeli posisinya lebih tinggi.
Adanya privasi kelompok, obrolan kelompok dan atau hal lainnya yang membuat seolah-olah dibutuhkannya pembatas. Namun pembatas menjadikan hilangnya fungsi warkop/kedai kopi sebagai ruang interaksi sosial. Ruang untuk kenal orang baru misalkan.
Hadirnya ruang yang menamakan warkop atau kedai kopi berkonsepkan café pertanda adanya kebutuhan akan privasi. Baik itu privasi individu maupun kelompok. Namun ruang-ruang seperti warkop / kedai kopi pun ikut andil dalam pembentukan kebutuhan tersebut. Karena warkop/kedai kopi tentunya saling membutuhkan dengan pembelinya. Lalu kalau ingin privasi, mengapa harus membuat kumpulan di ruang publik seperti warkop atau café?

***

Satu meja, satu topik pembicaraan. Meja bisa menjadi pembatas pembicaraan dan interaksi sosial.

Meja bisa menjadi media interaksi sosial, namun meja juga bisa menjadi sekat. Meja bisa menjadi pembatas. Meja bisa menjaga obrolan dan privasi (individu dan kelompok). Menjadi jurang sosial.

Cuma ada istilah ‘satu meja’, tak terdengar istilah ‘satu kursi’.
 

Ilustrasi : sumber

14 Mei 2013

Film : Dibalik Frekuensi



Sutradara : Ucu Agustin
Tipe : Dokumenter
Produksi :  Cipta Media Bersama, 2012.


-- Frekuensi itu seperti udara, hak semua orang. Begitulah jurnalistik, seharusnya berpihak kepada rakyat bukan pemilik modal.

                        Kira-kira begitulah kutipan dari film yang berjudul ‘Dibalik Frekuensi’ yang telah direlease tahun 2012 lalu. Ini merupakan film dokumenter yang bercerita tentang dua media (televisi) besar di Indonesia yang telah dikonglomerasi.
                Menceritakan tentang seorang ibu rumah tangga karyawan Metro TV yang di-nonjobkan bernama Luviana. Dia tetap memenuhi kewajibannya ke untuk datang ke kantor, namun tidak boleh lagi memasuki kantor redaksional dan dipindahkan ke bidang HRD.
Luviana terus mempertanyakan kesalahan yang dilakukannya. Bersama Aliansi Jurnalist Independent (AJI) Luvi terus melakukan negosiasi dan konsolidasi dengan pihak menajemen. Namun tidak ada kejelasan. Diduga nonjob yang dilakuka terhadap Luvi karena ia menginisiasi pembentukan aliansi serikat pekerja Metro TV.
Ditengah kasus ini bergulir. Tersiar juga kabar salah seorang korban lumpur Siodoarjo Jawa Timur bernama Hari Suwandi sedang melakukan aksi jalan kaki dari Porong, Sidoarjo menuju Jakarta. Ini untuk menuntut pemerintah dan PT Lapindo Indo Brantas sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap kejadian lumpur lapindo. Ia menuntut pelunasan pembebasan lahan korban lumpur lapindo dan membuat korban memiliki hidup layak kembali. Hari Suwandi menempuh perjalanan melalui pantai utara jawa kurang lebih 29 hari perjalanan.
Itulah dua tokoh yang diceritakan film ini, namun Luviana adalah tokoh utamanya. Film ini disetting dengan dua cerita tersebut, dengan alur yang dicampur. Dalam film ini banyak memperlihatkan bagaimana jurnalistik hari ini tidak lagi memiliki keberpihakan terhadap rakyat, namun mengutamakan kepentingan pemiliki modal. Ditampilkan dengan jelas bagaimana kampanye politik pemilik-pemilik Metro TV, Vivanews group atau MNC group sekalipun harus memiliki ‘porsi khusus’ dalam pemberitaan di media tersebut.
Adegan-adegan dalam film ini banyak menunjukkan bagaimana perjuangan Luviana bersama organisasi lainnya mempertanyakan statusnya di perusahaanya bekerja. Termasuk bagaimana ketika Luviana berusaha mendatangi kantor pusat nasdem partai tempat Surya Paloh pemilik Metro TV bernaung. Juga bagaimana perjuangan Hari Suwandi untuk sampai di Jakarta dan usaha-usaha yang ia lakukan setibanya di ibu kota, termasuk menemui salah satu wakil rakyat di senayan.
Selain itu juga banyak memperlihatkan bagaimana media-media (televisi) besar tersebut saling melindungi pemilik modal mereka. Bagaimana mereka berusaha menutupi atau mencari ‘angel pemberitaan’ mereka sehingga seolah berubah menjadi pencitraan bagi pemilik modal mereka. Dalam film ini diperlihat dengan gamblang, bagaimana media mengubah angel pemberitaan mereka jika sudah menyangkut citra sang pemilik modal.
Dipenghujung film, diperlihatkan Luviana yang akhirnya diPHK secara resmi oleh pihak menajemen Metro TV padahal masih dalam tahap negosiasi dan konsolidasi. Juga diperlihatkan bagaimana efek dari perjuangan Luviana tersebut. Ia hanya berjuang untuk melawan ketakutan. Hari Suwandi yang dari awal terlihat begitu tulus juga tiba-tiba melakukan interview live di TV One, menyatakan bahwa ia menyesal dengan tindakan. Ia merasa tindakannya adalah salah. Keluarga Bakrie (pemilik PT Lapindo Indo Brantas) pastinya mampu menyelesaikan masalah lumpur di Sidoarjo. Ia seperti menjadi penjilat dan membalikkan fakta sebelumnya.
Begitulah konglomerasi media yang diceritakan Ucu Agustin melalui film ini. Media yang seharusnya penyampai frekuensi fakta kepada masyrakat, malah dijadikan tameng citra oleh pemilik modal mereka. Bahkan yang lebih mengkhawatirkan lagi, dari puluhan media televisi, ratusan media cetak, dan ribuan portal online di Indonesia ternyata hanya dimiliki oleh 12 pemodal. Artinya media di Indonesia hanya terbagi ke dalam 12 kelompok pemilik modal dan merekalah yang menguasai frekuensi-frekuensi yang beredar bebas di udara bumi pertiwi.  Jika sudah seperti ini, dimanakah indenpensi media yang kita damba-dambakan?
‘Pers dulu dibungkam, pers sekarang dibeli’, - Ucu Agustin.

Yolanda Krisna Putra
Editor in Chief bandungsearch.com

Foto : Sumber