14 Mei 2013

Film : Dibalik Frekuensi



Sutradara : Ucu Agustin
Tipe : Dokumenter
Produksi :  Cipta Media Bersama, 2012.


-- Frekuensi itu seperti udara, hak semua orang. Begitulah jurnalistik, seharusnya berpihak kepada rakyat bukan pemilik modal.

                        Kira-kira begitulah kutipan dari film yang berjudul ‘Dibalik Frekuensi’ yang telah direlease tahun 2012 lalu. Ini merupakan film dokumenter yang bercerita tentang dua media (televisi) besar di Indonesia yang telah dikonglomerasi.
                Menceritakan tentang seorang ibu rumah tangga karyawan Metro TV yang di-nonjobkan bernama Luviana. Dia tetap memenuhi kewajibannya ke untuk datang ke kantor, namun tidak boleh lagi memasuki kantor redaksional dan dipindahkan ke bidang HRD.
Luviana terus mempertanyakan kesalahan yang dilakukannya. Bersama Aliansi Jurnalist Independent (AJI) Luvi terus melakukan negosiasi dan konsolidasi dengan pihak menajemen. Namun tidak ada kejelasan. Diduga nonjob yang dilakuka terhadap Luvi karena ia menginisiasi pembentukan aliansi serikat pekerja Metro TV.
Ditengah kasus ini bergulir. Tersiar juga kabar salah seorang korban lumpur Siodoarjo Jawa Timur bernama Hari Suwandi sedang melakukan aksi jalan kaki dari Porong, Sidoarjo menuju Jakarta. Ini untuk menuntut pemerintah dan PT Lapindo Indo Brantas sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap kejadian lumpur lapindo. Ia menuntut pelunasan pembebasan lahan korban lumpur lapindo dan membuat korban memiliki hidup layak kembali. Hari Suwandi menempuh perjalanan melalui pantai utara jawa kurang lebih 29 hari perjalanan.
Itulah dua tokoh yang diceritakan film ini, namun Luviana adalah tokoh utamanya. Film ini disetting dengan dua cerita tersebut, dengan alur yang dicampur. Dalam film ini banyak memperlihatkan bagaimana jurnalistik hari ini tidak lagi memiliki keberpihakan terhadap rakyat, namun mengutamakan kepentingan pemiliki modal. Ditampilkan dengan jelas bagaimana kampanye politik pemilik-pemilik Metro TV, Vivanews group atau MNC group sekalipun harus memiliki ‘porsi khusus’ dalam pemberitaan di media tersebut.
Adegan-adegan dalam film ini banyak menunjukkan bagaimana perjuangan Luviana bersama organisasi lainnya mempertanyakan statusnya di perusahaanya bekerja. Termasuk bagaimana ketika Luviana berusaha mendatangi kantor pusat nasdem partai tempat Surya Paloh pemilik Metro TV bernaung. Juga bagaimana perjuangan Hari Suwandi untuk sampai di Jakarta dan usaha-usaha yang ia lakukan setibanya di ibu kota, termasuk menemui salah satu wakil rakyat di senayan.
Selain itu juga banyak memperlihatkan bagaimana media-media (televisi) besar tersebut saling melindungi pemilik modal mereka. Bagaimana mereka berusaha menutupi atau mencari ‘angel pemberitaan’ mereka sehingga seolah berubah menjadi pencitraan bagi pemilik modal mereka. Dalam film ini diperlihat dengan gamblang, bagaimana media mengubah angel pemberitaan mereka jika sudah menyangkut citra sang pemilik modal.
Dipenghujung film, diperlihatkan Luviana yang akhirnya diPHK secara resmi oleh pihak menajemen Metro TV padahal masih dalam tahap negosiasi dan konsolidasi. Juga diperlihatkan bagaimana efek dari perjuangan Luviana tersebut. Ia hanya berjuang untuk melawan ketakutan. Hari Suwandi yang dari awal terlihat begitu tulus juga tiba-tiba melakukan interview live di TV One, menyatakan bahwa ia menyesal dengan tindakan. Ia merasa tindakannya adalah salah. Keluarga Bakrie (pemilik PT Lapindo Indo Brantas) pastinya mampu menyelesaikan masalah lumpur di Sidoarjo. Ia seperti menjadi penjilat dan membalikkan fakta sebelumnya.
Begitulah konglomerasi media yang diceritakan Ucu Agustin melalui film ini. Media yang seharusnya penyampai frekuensi fakta kepada masyrakat, malah dijadikan tameng citra oleh pemilik modal mereka. Bahkan yang lebih mengkhawatirkan lagi, dari puluhan media televisi, ratusan media cetak, dan ribuan portal online di Indonesia ternyata hanya dimiliki oleh 12 pemodal. Artinya media di Indonesia hanya terbagi ke dalam 12 kelompok pemilik modal dan merekalah yang menguasai frekuensi-frekuensi yang beredar bebas di udara bumi pertiwi.  Jika sudah seperti ini, dimanakah indenpensi media yang kita damba-dambakan?
‘Pers dulu dibungkam, pers sekarang dibeli’, - Ucu Agustin.

Yolanda Krisna Putra
Editor in Chief bandungsearch.com

Foto : Sumber

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar